04 Desember 2010
Pengunjung sebuah mall di Pusat Dizengoff di Tel Aviv Israel hari Selasa lalu
dihadapkan dengan etalase mengejutkan dimana di dalamnya berisi
perempuan-perempuan siap untuk dijual lengkap dengan label harga yang
menyertainya.
Di label itu lengkap tertulis rincian umur, berat, ukuran vital, kelahiran,
dan negara asal. Tujuh wanita muda berdiri di depan pembeli lewat bolak-balik
di bawah tanda yang bertuliskan "Perempuan Dijual sesuai selera pribadi."
Sambil sesekali berkedip genit dengan pose seksi.
Namun ada juga yang tampil dengan muka lebam, seperti habis disiksa, sambil sekali-kali meraung. Ya, cukup mengundang perhatian.
Ternyata itu adalah bagian kampanye anti penjualan wanita yang angkanya cukup
tinggi di Israel. Para wanita yang "dijajakan" berikut bandrolnya tadi adalah
para relawan. Acara tersebut diadakan oleh Kelompok Kerja Melawan Perdagangan
Perempuan, bagian dari kampanye luas.
Tujuannya adalah untuk meminta sejumlah besar tanda tangan yang akan
diserahkan kepada Menteri Kehakiman, untuk membuat undang-undang yang
menghukum kaum pria yang datang ke tempat prostitusi.
Anggota Kelompok Kerja percaya bahwa hukum seperti ini bisa membasmi fenomena perdagangan perempuan. "Para korban perdagangan manusia tidak bisa beristirahat pada siang hari, sehingga kita tidak baik," jelas pengacara Uri Keidar, salah satu pendiri organisasi. "Sebenarnya, apa yang kita lihat di sini terjadi setiap saat di seluruh negeri, dan di sini di mall anda tidak bisa mengabaikan kenyataan di depan wajahmu." Keidar melanjutkan, "Tujuan kami adalah untuk membawa masalah tersebut kepada perhatian publik dan menyebabkan orang datang ke pendapat pada topik
Tentu,. Kami juga bekerja untuk mengajukan undang-undang yang akan turun pada germo pelacur. " Menurut Keidar, RUU ini telah ada di Kementerian Kehakiman selama dua tahun, namun belum undangkan belum. "Hukum akan menyebabkan pengurangan permintaan untuk prostitusi, dan karena itu juga pengurangan perdagangan perempuan," jelas Keidar.
Israel dijadikan negara tujuan penyelundupan wanita yang berasal dari berbagai negara. Perempuan itu dijual, disiksa, diperkosa, dan dijadikan budak. Korban traffiking di sana dikabarkan harus melayani 20-35 pria hidung belang dalam sehari, dan tentu saja itu meresahkan pemerintah di sana.
"Saya berencana untuk menyampaikan permohonan ini kepada Menteri Kehakiman pada pertemuan untuk debat RUU untuk menjaring hidung belang, yang akan mencerminkan keinginan sejati rakyat Israel," tambah Zuaretz

(dikutip dari berbagai sumber)








